LOMBOK??! Siapa
yang tidak mengenal keeksotisan salah satu pulau di Indonesia ini. Pulau yang
juga dijuluki sebagai pulau seribu masjid ini memiliki kekayaan dan keindahan
alam yang berlimpah. Pantai-pantai biru yang
indah dengan pasir putihnya yang halus, pemandangan pegunungan yang berbaris kokoh, berbagai macam air terjun dengan masing-masing
karakteristiknya dan budidaya mutiara-mutiara yang cantik, hal yang jarang saya temuI di tanah kelahiran
saya, Kota Malang. Satu setengah tahun ini saya menjadi perantau di pulau Lombok , tepatnya saya
tinggal di Kota Mataram. Indah alam Pulau Lombok ini tentunya tidak boleh saya
lewatkan begitu saja. Setiap waktu libur saya menyempatkan diri untuk
berjalan-jalan di sekitar karena saya ingin mengenal alam Pulau Lombok lebih
dekat.
Di hari Minggu pagi
yang cerah saya mulai bersiap untuk melakukan perbolangan (istilah jalan-jalan yang sering kami gunakan) menuju
tempat yang saya impikan yaitu Tanjung Ringgit, Lombok Timur. Kali ini saya melakukan
perbolangan bersama seorang teman dan
kami pun langsung meluncur dengan menggunakan sepeda motor. Jalur yang kami
pilih dalam perbolangan ini adalah
melalui Mataram-Lingkar selatan-Bengkel-Kediri-batukumbung-Puyung- Praya-Pejanggik-Mujur-Ganti-
Keruak-Jerowaru-Desa Pemongkong perjalanan ditempuh kurang lebih 2,5 jam dengan
kecepatan rata-rata 70 km/jam. Selama perjalanan
dari Mataram kami tidak mengalami kendala yang berarti karena jalanan pada rute
tersebut bagus dan bebas macet, sesekali kita terhenti atau mengurangi kecepatan
karena di beberapa titik jalan terdapat keramaian masyarakat yang sedang
bertransaksi jual beli di pasar tradisional dan juga harus berbagi penggunaan jalan
dengan cidomo,salah satu transportasi darat tradisional khas Lombok seperti
cikar/ andong.
Ketika memasuki
wilayah Lombok Tengah kita disuguhkan dengan pemandangan sawah yang
membentang dan pepohonan yang hijau,
tetapi sayang dalam kawasan ini sudah mulai ditemui beberapa jalan yang kondisi
aspalnya sudah tidak bagus. Perjalanan pun masih berlanjut dan tantangan medan menuju Tanjung Ringgit
dimulai, sesampai di Desa Pemongkong, Lombok Timur kami disambut dengan kondisi jalanan yang
‘aduhai’ membuat badan bergoyang, jalanan bebatuan dan berdebu. Adapun beberapa
jalan yang beraspal tetapi kondisinya banyak yang rusak dan berlubang. Akan
tetapi kami tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanan , memang kali ini
merupakan pengalaman pertama kami untuk menjelajah kawasan Lombok Timur dan
kami juga belum familiar dengan daerah ini, sedangkan ketersediaan plang-plang
penunjuk jalan yang kami andalkan sebagai pedoman perbolangan masih minimal.
Beberapa saat
kemudian, kami pun menemukan 2 plang hijau
penunjuk jalan dimana yang satu tertulis Pantai Cemara, Kaliantan, Tanjung
Ringgit dengan tanda panah lurus, sedang plang yang lain tertulis Ekas, Pantai
Surga dengan tanda panah belok kanan. Maka untuk memastikan agar kami tidak
salah jalan dan berdasar kata pepatah ‘Malu bertanya sesat di jalan’ kami pun
berinisiatif untuk bertanya pada masyarakat sekitar mengenai rute jalan yang
harus ditempuh. Hal ini juga kami lakukan ketika kami melakukan perjalanan di
rute sebelumnya,Praya-Pejanggik-Mujur-Ganti- Keruak-Jerowaru-Desa Pemongkong.
Toh, masyarakat Indonesia sudah dikenal dunia sebagai masyarakat yang ramah,
masalah bahasa pun tidak menjadi kendala walaupun kami belum bisa berbahasa
lokal (bahasa Sasak) kami pun menggunakan bahasa persatuan,Bahasa Indonesia.
Setelah
melakukan perbincangan dengan masyarakat setempat, kami harus mengikuti jalan
lurus sampai 300 meter ke depan sampai menemukan jalan belok kiri, setelah itu tinggal lurus
sampai ujung. Ketika kami menanyakan seberapa jauh menuju Tanjung Ringgit
jawabanya adalah “Pokoknya side (Anda
dalam Bahasa Sasak) lolos (terus/
lanjut dalam Bahasa Sasak) aja sampai side
sampai menemukan tebing paling ujung, jauh dah pokoknya!”. Kami pun jadi
penasaran sebenarnya berapa lama lagi kami akan tiba di Tanjung Ringgit, padahal
perjalanan yang kami tempuh sampai di Desa Pemongkong ini saja sudah membuat buttock (maaf) saya terasa panas. Kami pun langsung bergegas melanjutkan
perjalanan. Lagi-lagi kami melewati sepanjang jalan yang ‘aduhai’ membuat badan
bergoyang. Demi menjaga keselamatan pembonceng (saya pribadi), teman yang saya
bonceng, dan sepeda motor yang kami kendarai, saya pun mengurangi kecepatan dan
berbelak-belok lincah mencari jalan yang layak untuk dilewati.
Di awal
perjalanan (setelah melewati jalan belok kiri) kami masih menemui beberapa
rumah penduduk disertai sawah, ladang dan pepohonan tetapi lama kelamaan
sepanjang perjalanan kami tidak menemukan pemukiman sama sekali. Di sebelah
kanan kiri jalan hanya terdapat ladang dan pepohonan yang lebat, kami merasa benar-benar
berada di dalam hutan, sempat ada kekhawatiran bagaimana jika ban motor saya
tiba-tiba bocor, kami pasti akan terjebak di hutan. Sesekali kami berpapasan
dengan bapak-bapak yang mengendarai motor dengan membawa peralatan memancing
atau pengembala yang sedang menggiring segerombolan kerbau menuju tempat kubangan.
Perjalanan menuju
Tanjung Ringgit memang benar-benar jauh, tetapi kami tetap menikmati perjalanan
ini karena sepanjang jalan ditemani kicauan burung yang hinggap di pepohonan. Di
beberapa titik kami juga menemui hewan-hewan liar seperti monyet, burung elang,
jalak serta bunga dengan kombinasi warna merah dan kuning pada mahkota,tak tau
namanya apa yang jelas saya menyebutnya bunga api karena benar-benar tampak
seperti api yang menyala. Entah sudah
berapa kilometer perjalanan yang kami tempuh tetap saja belum menemukan tebing
paling ujung yang dimaksud (Tanjung Ringgit), kami pun memutuskan untuk
istirahat sejenak sambil berfoto-foto di hutan. Disini kami juga menemukan
papan hijau besar berbentuk saung (rumah adat orang sasak) dan terdapat tulisan
berjudulul ‘KEGIATAN REBOISASI KERJASAMA INDONESIA-JEPANG’ dengan bagian paling bawah terdapat gambar
logo JIFPRO, Departemen Kehutanan RI, dan Dinas Kehutanan membuktikan bahwa kami benar-benar berada di
dalam hutan lindung.
Dengan keyakinan
kuat dan harapan yang besar kami melanjutkan perjalanan, masih dengan melewati
kawasan hutan yang rindang tetapi sekarang dengan medan jalan yang berbeda,
perpaduan jalanan naik turun dengan struktur aspal kasar dan tanah basah.
Setelah beberapa menit berlalu kami mulai mendengar samar-samar deburan ombak
dan tampak mercusuar yang menjulang, ini menandakan Tanjung ringgit semakin
dekat. Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam perjalanan terhitung dari jalan
belok kiri arahan masyarakat Desa Pemongkong, kami pun tiba di Tanjung Ringgit.
Saya pun speechless, hanya bisa tersenyum
lega-bahagia karena perjalanan panjang kami terbayarkan sesuai impian. Saat itu
saya sedang berdiri dimana di depan saya
terhampar lautan biru yang luas nan luar biasa indahnya disertai tebing kapur
yang megah. Saya pun tidak percaya kalau di depan saya adalah Samudera
Indonesia, SubhanAllah. Kami pun
sempat berlarian dan berteriak senang sebagai tanda puas atas suatu pencapaian,
tanpa banyak membuang waktu kami mencoba melihat Samudera Indonesia lebih
dekat, kami pun berhati-hati saat berjalan karena medannya bukit yang miring dan
menurun. Terik matahari saat itu begitu menyengat, tapi hal tersebut tidak
memudarkan kegembiraan kami. Keindahan alam Pulau Lombok yang satu ini memang
sungguh luar biasa. Dari kejauhan air laut yang dekat dengan dasar tebing
terlihat cantik sekali dengan degradasi warna dari putih-biru muda-biru laut. Pastinya
kami tidak lupa mengabadikan keindahan Tanjung Ringgit dari berbagai sudut. Sejauh
mata memandang hanya kami berdua saja yang saat itu berada di Tanjung Ringgit
semakin memberikan kebebasan pada kami berpose narsis ria dengan kamera.
Tak jauh dari
tempat saya berfoto, teman saya melihat sebuah lorong dimana apabila kami
melewatinya kami bisa menuju dekat bibir lautan. Dengan berhati-hati kami
menelusurinya sampai-sampai kami merayap karena medannya berbentuk tebing yang cukup
curam dan menurun, serta tebing tersebut mengandung kapur tampak dari warnanya hitam bercampur putih
kadang kekuningan. Sesampai di bibir lautan terik matahari terasa lebih
menyengat, kami hanya sebentar saja disana untuk menikmati hembusan angin dan ombak
Samudera Indonesia dari dekat, setelah itu kami memutuskan untuk kembali.
Letih, haus, dan badan pegal terasa setelah kami kembali dari bibir lautan
karena secara otomatis kami melakukan mini-climbing
untuk melewati tebing tersebut. Tetapi hal itu tak menjadikan saya jera untuk
datang lagi ke Tanjung Ringgit di lain kesempatan. Pada saat itu dalam hati
saya hanya terucap syukur pada Sang Pencipta,’Terima kasih Ya ALLAH atas nikmat
kesehatan dan waktu luang yang KAU berikan, terima kasih juga atas kesempatan
untuk menikmati indah alam-MU ini.
Lombok I love you!
I Love mbolang forever.
By the way, bagi kawan-kawan yang ingin
meluangkan waktu untuk melakukan perbolangan
dan melihat kemegahan alam Tanjung Ringgit, Lombok Timur yang super-fantastic secara live saya memberikan beberapa saran
setelah melakukan evaluasi perbolangan
kami :
1.
Awali perbolangan
dengan doa, niat, tekad yang kuat, dan informasi yang jelas mengenai rute perjalanan. Jangan
lupa stretching untuk meregangkan
otot-otot, badan fit diperlukan dalam
perbolangan.
2.
Pastikan kendaraan yang kita pakai dalam kondisi
baik karena perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu yang lama disertai dengan medan yang ‘aduhai’. Lebih disarankan
memakai mobil atau menyewa mobil plus sopirnya, karena dalam perjalanan
yang panjang bisa kita manfaatkan untuk istirahat (tidur). Bangun-bangun sudah
sampai di Tanjung Ringgit, kita tinggal foto-foto dan mini-trekking.
3.
Lebih baik dilakukan secara rombongan karena
lebih seru dan rame, bisa juga dikonsep seperti piknik tentunya dilengkapi
dengan membawa keranjang bekal berisi banyak makanan-minuman dan alas (tikar).
4.
Memanfaatkan gadget
yang teman- teman punya seperti GPS atau
Handphone dengan aplikasi GPS untuk
memperkecil kemungkinan tersesat. Selain itu karena Tanjung Ringgit juga bagus
untuk dijadikan wisata fotografi, jadi tidak ada salahnya membawa kamera digital/DSLR
untuk mengabadikan keindahan alamnya dengan hasil yang memuaskan.
5.
Jangan lupa membawa kacamata (sun-glasses) dan sunblock/ sunscreen gel dengan SPF
yang cukup karena terik matahari cukup panas.
That’s all. Selamat mencoba perbolangan ke Tanjung Ringgit, Lombok Timur. Sayangi alam sebagaimana ia memberikan manfaat yang besar bagi kita,kawan! Jaya terus pariwisata Indonesia!