Rabu, 10 Oktober 2012


“Surga!”. Setiap mendengar kata tersebut pasti kita akan terbayang dengan tempat  yang menawan, istimewa, tenang, nyaman, dan damai. Setiap orang pasti mendambakan ingin masuk surga saat berada di alam baka kelak. Tapi bagaimana jika manusia mempresentasikan definisi sebuah ‘surga’ di dunia ini?, tentunya banyak versi pendapat yang bisa dipaparkan oleh masing-masing individu. Kira-kira apa yang ada dalam pikiran kita jika ‘surga’ dipresentasikan dalam sebuah keindahan alam dan dijadikan nama sebuah pantai. Wow! pasti sungguh luar biasa indahnya. Air pantai yang biru dan jernih, pasir putih yang lembut, barisan pohon kelapa dengan hijau daun yang melambai secara otomatis akan terekam dalam otak kita. Atau mungkin ada yang memiliki imajinasi lain dengan suasana alam Pantai Surga?. Tanpa  banyak membuang waktu untuk membayangkan penampilan Pantai Surga itu seperti apa. Yuk! saya ajak kawan-kawan untuk menelusuri keberadaan Pantai Surga.


Pantai Surga terletak di kawasan Jerowaru-Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari Kota Mataram sekitar 3,5 jam. Saat berada di kawasan jerowaru, langsung saja perjalanan kita lanjutkan menuju Desa Pemongkong. Ketika menemui persimpangan di dekat pasar tradisional yang penuh sesak oleh keramaian masyarakat, kita ambil jalan belok kanan. Dari lokasi ini kita mulai melintasi jalanan dengan struktur yang belum bagus. Penanda selanjutnya yang harus kita cari adalah plang penunjuk arah berwarna hijau yang terdapat tulisan bersusun ‘PANTAI CEMARA, KALIANTAN, TJ. RINGGIT, EKAS, PANTAI SURGA’.  Setelah menemukan plang tersebut kita ambil jalan belok kanan sesuai arah tanda panah pada tulisan ‘PANTAI SURGA’.


Ketika mengikuti arah belok kanan setelah menemui plang penunjuk jalan, tantangan pun dimulai. Kita akan melalui medan jalan yang belum bagus. Jalan aspal yang berlubang disertai dengan struktur yang belum halus. Sepanjang jalan kita melewati perkampungan masyarakat. Sisi kanan-kiri jalan masih ditemui tumbuhan hijau dan barisan pepohonan yang rindang. Tak lama kemudian, lagi-lagi kita menemui kondisi jalan aspal yang memprihatinkan. Pada bagian tengah jalan tampak terbelah dan membentuk gelombang membujur. Pada bagian sebelah kiri kondisi jalan aspal terlihat retak, sedangkan sisi yang lain membentuk lubang dan banyak terdapat batu-batu kecil pecahan dari aspal yang rusak. Selanjutnya selama perjalanan kita masih melintasi jalan aspal yang belum halus.




Beberapa menit kemudian setelah melewati jalan aspal, kita akan menghadapi medan jalan yang perawan. Ya, perawan! saking perawannya jalanan ini belum tersentuh sama sekali oleh panasnya aspal yang hitam, hanya berasal dari tanah alami. Bisa dibayangkan bagaimana rupa kondisi jalan setelah diguyur oleh hujan. Becek dan licin pastinya. Saat kondisi jalan seperti itulah pengalaman pertama saya menyusuri Pantai Surga. Mau tidak mau saya dan teman saya harus bergantian menuntun sepeda motor menjelajah medan jalan yang luar biasa menantang. Sesekali saya menaiki motor sendiri jika masih menemui jalanan tanah yang mulai mengering atau memadat. Tentunya teman saya berjalan duluan hingga beberapa meter di depan saya, menunggu . Setelah saya menghampiri nya, giliran teman saya yang mengendarai motor dan saya berjalan kaki. Begitu sampai seterusnya kita lakukan saat menemui medan tanah becek.


Medan tanah yang berlumpur sudah kita lewati. Sedikit bisa bernafas lega, karena medan selanjutnya kita masih melintasi jalan tanah alami. Tetapi kondisinya sudah mengering dan padat. Di depan, sepanjang mata memandang kita mulai menemukan perkampungan penduduk lagi. Karena saat melewati jalan sebelumnya, selama perjalanan hanya ditemui tumbuhan hijau dan pepohonan yang menghijaukan pinggiran jalan. Sekali, dua kali kita menemui beberapa penduduk yang berjalan kaki menuju ladang. Jalan menuju arah perkampungan penduduk walaupun tanahnya kering tetapi medannya naik turun. Dibutuhkan kejelian ekstra untuk melewati jalanan tersebut. Karena mulai ditemui kombinasi bebatuan pada jalan. Setelah melalui jalan menurun, pada kanan jalan di antara rumah penduduk, kita bisa menemui akses menuju Pantai Surga di Atas Planet. Sebenarnya ingin sekali melihat pantai tersebut. Tapi sayang saat medekati pintu gerbang masuk, kami dilarang oleh penjaga. Karena kawasan tersebut khusus untuk para tamu yang bermalam di cottage yang berada di kawasan tersebut. Sayang sungguh sayang! kami pun hanya bisa berfoto di depan gerbang yang disebelahnya terdapat batu ukir bertuliskan ‘HEAVEN ON THE PLANET’.

Penelusuran menuju Pantai Surga masih berlanjut. Dengan bertanya pada penduduk sekitar, kita meminta informasi yang jelas mengenai rute jalan yang harus ditempuh. Senang rasanya bisa melewati sepanjang jalan tanah yang kering dan padat. Selain itu selama perjalanan kita bisa menikmati hijaunya tumbuhan yang tersebar di ladang penduduk. Di beberapa ladang juga bisa ditemui rumah bambu yang mencolok dengan warna coklatnya. Bukit-bukit hijau juga mulai menampakkan kegagahannya.Tapi kesenangan itu tak bertahan lama. Beberapa meter di depan kami, jalan becek dan licin mulai menyambut kedatangan kami. Lagi dan lagi. Sepanjang jalan tersebut juga hanya terdapat semak belukar dan pepohonan hijau yang liar. Rumah penduduk pun mulai tidak nampak, rasanya seperti di hutan saja. Tekad kami pun mulai goyah, saat meghadapi kenyataan bahwa jalan semakin becek. Langit pun berganti menjadi abu-abu. Tik,tik,tik! Tetesan air dari langit mulai berjatuhan. Untungnya gerimis tak berlangsung lama, tak lebih dari satu menit. Tapi langit masih belum berubah warna menjadi biru terang, hanya berawan.
Semakin lama perjalanan yang kami tempuh, rasa-rasanya kami seperti pembajak sawah saja. Bagaimana tidak, motor yang kita pergunakan tidak bisa melewati medan seperti ini. Kami bergantian menuntun sepeda motor sampai menemukan jalan yang benar-benar layak untuk mengendarai motor. Menit demi menit terlewat, akhirnya kita tiba juga di Pantai Surga. Tampak di depan  terdapat pintu gerbang besi dan ukiran batu bertuliskan ‘OCEAN HEAVEN’. Modelnya pun mirip seperti saat kami menemui gerbang pintu masuk Pantai Surga di Atas Planet. Kami pun langsung masuk. Tengok kanan-kiri tidak ada penjaga yang berada di sekitar. Aman!. Saat memasuki kawasan tersebut kami menemui beberapa pekerja bangunan yang sibuk membangun cottage. Menurut informasi yang kami dapat, kawasan ini sudah menjadi hak kelola oleh seorang ekspatriat. Saya lupa kebangsaan negaranya, antara Australia atau New Zealand. Dan proyek ini pun akan selesai 2 bulan lagi. Dan setelah itu keindahan pantai ini hanya bisa dinikmati khusus oleh para tamu, penginap cottage. Oh ya, perjalanan ini kami lakukan pada bulan Maret 2011 silam.


Setelah melewati pekerja bangunan dan barang-barang bangunan yang menumpuk, kami pun langsung menuju pantai yang terletak begitu dekat. Hanya beberapa langkah saja. Pasir putih yang lembut seperti merica mulai menyambut setiap tapak kaki yang kita buat. Saya pun melepas alas kaki. Rasa pasir begitu lembut, menggelitik tiap millimeter kulit telapak kaki. Kalau dilihat hamparan pasir nan bersih ini dikelilingi dan diapit oleh tebing-tebing batuan cadas. Sehingga jika dilihat area pasir pantai ini membentuk cekungan setengah lingkaran. Saat berada disini kami tidak menemukan wisatawan lain. Hanya ada tukang bangunan dan kami. Pantai Surga benar-benar menjadi pantai pribadi kami saat itu. Desiran ombak terdengar nyaring disertai angin pantai yang memberikan sensasi segar pada kulit yang mengeluarkan butiran air keringat. Air pantainya pun jernih dan berwarna biru.Sungguh indah sekali, SubhanALLAH!.


Di sebelah kiri kita bisa menikmati 2 tebing batuan cadas yang bentuknya unik sekali. Bentuknya mirip seperti bentuk nasi yang tersedia di rumah makan ayam goreng cepat saji. Pada bagian atas tebing cadas ditumbuhi oleh rerumputan yang lebat dan tumbuhan hijau yang merambat. Semakin ke bawah, semakin jarang rerumputan dan tumbuhan hijau yang tumbuh. Pada bagian bawah tebing lebih menampakkan warna cadas, kuning kecoklatan. Warna kuning kecoklatan semakin terlihat kontras dari kejauhan. Selain mendapat pantulan cahaya matahari, dibawah tebing cadas juga dikelilingi oleh air pantai yang biru. Karena 2 tebing cadas ini letaknya berdampingan dan tebing terjauh letaknya lebih menjorok keluar. Mata kita pun seperti melihat kura-kura raksasa. Tebing paling dekat menggambarkan sebagai tempurung kura-kura sedangkan tebing cadas paling jauh berperan sebagai kepala kura-kura. Lucu sekali!

Ketika mata kita masih setia menyusuri pemandangan dua tebing tersebut ke belakang, maka kita akan melihat satu tebing cadas lagi. Kali ini bentuknya seperti batok kelapa yang dibelah kemudian diterungkapkan. Tebing cadas ini tidak bersinggungan langsung dengan air pantai, menancap kokoh pada halaman pasir pantai yang lembut. Di dekat dasar tebing cadas ditemui barisan pohon kelapa yang berdiri tegap. Dahan kelapa tampak bergoyang saat angin dihempaskan dari arah pantai menuju daratan. Daun-daun kelapa pun menari dengan gemulai, menyambut belaian angin pantai yang semilir. Selanjutnya kita menikmati pemandangan hijau rerumputan dan tumbuhan hijau liar yang merambat di sekitar area pasir pantai.

Pada bagian sebelah kanan, kita bisa menikmati  tebing cadas yang bentuknya tak beraturan dan memanjang. Tampak dari kejauhan seperti  bentuk komet yang dibelah horizontal dan posisinya tengkurap. Pada bagian atas bukit cadas ditumbuhi rerumputan dan tumbuhan hijau liar yang merambat. Saat mendekati dasar tebing cadas kita bisa menemui batu karang besar yang berhamburan di pinggir pantai. Beberapa batu karang dipenuhi dengan ribuan cangkang kerang yang menempel. Saat berada di balik bukit yang bersinggungan dengan air pantai, kita disuguhkan dengan pemandangan bongkahan bukit cadas yang kokoh.Sungguh luar biasa menawan! Tebing cadas tampak berbentuk persegi dan membentang sepanjang pantai. Bagus sekali digunakan sebagai pemandangan latar belakang saat mengambil gambar.  Disini kita juga bisa melihat ikan-ikan kecil yang menyelinap di balik batu karang. Tampaknya ikan-ikan tersebut terbawa oleh ombak pantai yang menuju daratan. Kemudian terperangkap dalam cekungan batu karang yang dangkal sehingga tidak bisa kembali ke pantai.

Semakin lama berada di sekitar Pantai Surga, semakin panas pula sinar matahari yang menyengat kulit. Pasir pantai yang awalnya lembut menggelitik kaki yang asik melangkah, sekarang terasa memanas. Untuk menyegarkan diri, kita bisa sekedar bermain-main air di pinggir pantai atau berenang. Air pantai memberi rasa dingin pada kulit yang terus mengeluarkan air keringat. Jika kita tidak mau berbasah ria, kita masih bisa berjalan kaki di sekitar area pantai untuk menikmati keindahan pemandangan sekitar. Menikmati luasnya pantai yang biru. Tampak dari kejauhan bukit-bukit berjajar rapi seperti anak rantai yang tak terputus. Langit yang biru tampak malu-malu menampakkan diri, karena saat itu langit diselimuti awan putih yang bergelung. Bermain pasir pantai juga bisa menjadi pilihan saat berada disini. Kalau beruntung kita bisa menemui kepiting yang berukuran cukup besar berlarian di sekitar pesisisr pantai.




Sungguh damai dan tenang memang berada di sekitar Pantai Surga. Walaupun sebelumnya kita harus melewati serangkaian medan jalan yang menantang. Apa mungkin nama Pantai Surga ini sengaja diambil karena kita harus melintasi jalur jalan ‘neraka’ tersebut?  atau karena sensasi ‘surga’ yang kita rasakan di sekitar pantai yaitu suasana sepi, tenang, dan kita dibuat nyaman oleh biru pantai, bukit cadas yang eksotis, dan pasir putihnya yang lembut?.Entahlah! yang terpenting saya sudah merasakan sensasinya secara langsung. Keindahan alam Indonesia itu memang menawan dan eksotis kawan! Jadi jangan bosan-bosan untuk menelusuri tiap jengkal keelokan alam Indonesia. Siapa tau masih banyak pantai-pantai ‘surga’ yang berada di sepanjang kepulauan wilayah Negara Indonesia.

Saya Cinta Alam Indonesia!
Bravo Pariwisata Indonesia!





Air Terjun Gangga


Cuaca yang panas di hari libur paling enak dimanfaatkan untuk berlibur ke air terjun. Apalagi dalam satu tempat wisata kita bisa merasakan 3 buah air terjun sekaligus. Euhm! Pasti menyenangkan bukan?. JIka Kawan-Kawan menghendaki hal tersebut, tak ada salahnya untuk meluangkan waktu berkunjung ke Pulau Lombok. Karena di Pulau Lombok terdapat air terjun yang bernama Air Terjun Gangga. Air terjun Gangga  terletak diantara Dusun Gangga dan Dusun Kerta Raharja,Desa Genggelang Kabupaten Lombok Utara – Nusa Tenggara Barat.
Selama menuju Air Terjun Gangga kita akan melewati pemukiman penduduk,persawahan, dan pemandangan bukit-bukit hijau. Setiba di lokasi air terjun, kita akan melewati beberapa anak tangga yang menanjak. Menaiki anak  tangga tak akan terasa melelahkan, jika kita menyertainya dengan menikmati pemandangan alam sekitar. Dari kejauhan sawah yang hijau membentuk petak-petak tak beraturan, indahnya pegunungan, hingga pantai pun tampak dari sini.
Saat menuju lokasi air terjun pertama, kita juga bisa menikmati air terjun ketiga yang letaknya di bawah bukit. Air terjun ketiga tampak lebih tinggi dibanding air terjun lainnya. Dan lokasi air terjun ketiga lokasinya lebih rumit. Untuk menuju kesana kita harus menggunakan tour-guide yang berada di tempat loket masuk Air Terjun Tirta Gangga. Setelah menaiki beberapa tangga dan mengikuti jalur yang ada, sampailah kita pada air terjun pertama.
Pada air terjun pertama memiliki karakteristik air terjun yang lebar dan curahan air tejunnya begitu besar. Di bawah air terjun kita bisa bermain-main air atau berenang. Karena kolam yang berada di bawah air terjun dibuat menyerupai bendungan. Kedalamannya hanya sekitar 1 meter saja. Dasar kolam pun terdiri dari pasir hitam yang lembut. Bagi yang ingin adu nyali, boleh juga dengan merayap pada tebing yang berada di air terjun untuk mendapatkan sensasi guyuran air terjun yang sangat deras.
Ada baiknya kawan-kawan jangan berlama-lama bermain air di air terjun pertama, karena tak jauh dari lokasi tersebut kita akan menemui air terjun kedua. Saat menuju air terjun kedua, kita terlebih dahulu melewati jembatan bambu sederhana. Yang meembuat istimewa air terjun kedua adalah lokasinya yang tersembunyi dan diapit oleh dua tebing yang menawan. Karakteristik air terjunnya pun juga indah. Air yang mengalir dari atas bukit terpecah oleh struktur bukit. Kemudian air tersebut merembes melalui dinding tebing. Tebing tersebut dipenuhi oleh tumbuhan hijau, sehingga kontras warna yang dihasilkan antara air dan tebing tampak seperti cabang akar tumbuhan yang merambat di tebing.
Sama halnya dengan air terjun pertama, aliran air terjun kedua juga ditampung dalam sebuah bendungan kecil. Akan tetapi di air terjun ketiga kedalamannya mencapai 3 meter. Pada saat saya berkunjung disini, saya bertemu dengan anak-anak warga sekitar yang sedang asyik berenang di kolam air tejun kedua. Tak hanya berenang saja, beberapa diantara mereka memanjat tebing di sekitar air terjun. Setelah mencapai ketinggian tertentu dan mendapatkan pijakan yang tepat, mereka langsung melompat dan menceburkan diri ke dalam kolam. Bukan sekali dua kali saja mereka melakukan atraksi ini. Saat menaiki tebing, mereka pun sangat lincah layaknya spiderman yang merayap di gedung.
Melihat atraksi anak-anak tersebut, saya pun ingin melakukan hal yang sama. Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya terjun bebas dari ketinggian. Awalnya saya melihat anak-anak tersebut bagaimana caranya mendapatkan pijakan dan menaiki tebing, kemudian saya mengikutinya. Sesampai di ketinggian kurang lebih 3 meter, saya pun bersiap untuk melompat. Rasa-rasanya mengerikan memang untuk memulainya, tapi berkat semangat dan dorongan dari adik-adik akhirnya saya melompat,Byur!. Tepuk tangan dari adik-adik bersambut saat saya sudah tercebur di kolam.Wah, ternyata sensasinya luar biasa. Saya pun jadi ketagihan dan mencari lokasi baru yaitu tebing di bawah air terjun. Memanjati tebing, merayapi tebing, melompat dari tebing, serta berteriak ketika menceburkan diri ke kolam sudah saya lakukan berkali-kali. Saya pun turut larut dalam kegembiraan adik-adik yang sedang bermain di sekitar air terjun.
By the way, bagi kawan-kawan yang beruntung mendapatkan cuaca cerah saat berkunjung di Air Terjun Gangga, kita bisa melihat pelangi yang berada di sekitar air terjun. Menurut informasi yang saya peroleh biasanya sekitar jam 2 siang pelangi terlihat jelas di sekitaran Air Terjun Gangga. Bagaimana Kawan apakah kalian ingin berkunjung kesini?  Atau penasaran dengan pengalaman melompat langsung dari tebing air terjun seperti yang telah saya lakukan?. Jika benar, langsung saja kalian menuju lokasi. Saya jamin pasti puas. Lagi-lagi alam di Indonesia itu sangat indah dan unik Kawan.






Minggu, 23 September 2012

MENGEJAR SAMUDERA INDONESIA DI TANJUNG RINGGIT



LOMBOK??! Siapa yang tidak mengenal keeksotisan salah satu pulau di Indonesia ini. Pulau yang juga dijuluki sebagai pulau seribu masjid ini memiliki kekayaan dan keindahan alam yang berlimpah.  Pantai-pantai biru yang indah dengan pasir putihnya yang halus, pemandangan pegunungan  yang berbaris kokoh,  berbagai macam air terjun dengan masing-masing karakteristiknya dan budidaya mutiara-mutiara yang cantik, hal  yang jarang saya temuI di tanah kelahiran saya, Kota Malang. Satu setengah tahun ini saya menjadi  perantau di pulau Lombok , tepatnya saya tinggal di Kota Mataram. Indah alam Pulau Lombok ini tentunya tidak boleh saya lewatkan begitu saja. Setiap waktu libur saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar karena saya ingin mengenal alam Pulau Lombok lebih dekat.


Di hari Minggu pagi yang cerah saya mulai bersiap untuk melakukan perbolangan (istilah jalan-jalan yang sering kami gunakan) menuju tempat yang saya impikan yaitu Tanjung Ringgit, Lombok Timur. Kali ini saya melakukan perbolangan bersama seorang teman dan kami pun langsung meluncur dengan menggunakan sepeda motor. Jalur yang kami pilih dalam perbolangan ini adalah melalui Mataram-Lingkar selatan-Bengkel-Kediri-batukumbung-Puyung- Praya-Pejanggik-Mujur-Ganti- Keruak-Jerowaru-Desa Pemongkong perjalanan ditempuh kurang lebih 2,5 jam dengan kecepatan rata-rata  70 km/jam. Selama perjalanan dari Mataram kami tidak mengalami kendala yang berarti karena jalanan pada rute tersebut bagus dan bebas macet, sesekali kita terhenti atau mengurangi kecepatan karena di beberapa titik jalan terdapat keramaian masyarakat yang sedang bertransaksi jual beli di pasar tradisional dan juga harus berbagi penggunaan jalan dengan cidomo,salah satu transportasi darat tradisional khas Lombok seperti cikar/ andong.


Ketika memasuki wilayah Lombok Tengah kita disuguhkan dengan pemandangan sawah yang membentang  dan pepohonan yang hijau, tetapi sayang dalam kawasan ini sudah mulai ditemui beberapa jalan yang kondisi aspalnya sudah tidak bagus. Perjalanan pun masih berlanjut  dan tantangan medan menuju Tanjung Ringgit dimulai, sesampai di Desa Pemongkong, Lombok Timur  kami disambut dengan kondisi jalanan yang ‘aduhai’ membuat badan bergoyang, jalanan bebatuan dan berdebu. Adapun beberapa jalan yang beraspal tetapi kondisinya banyak yang rusak dan berlubang. Akan tetapi kami tetap bertekad untuk melanjutkan perjalanan , memang kali ini merupakan pengalaman pertama kami untuk menjelajah kawasan Lombok Timur dan kami juga  belum familiar dengan daerah ini, sedangkan ketersediaan plang-plang penunjuk jalan yang kami andalkan sebagai pedoman perbolangan masih minimal.


Beberapa saat kemudian, kami pun menemukan 2  plang hijau penunjuk jalan dimana yang satu tertulis Pantai Cemara, Kaliantan, Tanjung Ringgit dengan tanda panah lurus, sedang plang yang lain tertulis Ekas, Pantai Surga dengan tanda panah belok kanan. Maka untuk memastikan agar kami tidak salah jalan dan berdasar kata pepatah ‘Malu bertanya sesat di jalan’ kami pun berinisiatif untuk bertanya pada masyarakat sekitar mengenai rute jalan yang harus ditempuh. Hal ini juga kami lakukan ketika kami melakukan perjalanan di rute sebelumnya,Praya-Pejanggik-Mujur-Ganti- Keruak-Jerowaru-Desa Pemongkong. Toh, masyarakat Indonesia sudah dikenal dunia sebagai masyarakat yang ramah, masalah bahasa pun tidak menjadi kendala walaupun kami belum bisa berbahasa lokal (bahasa Sasak) kami pun menggunakan bahasa persatuan,Bahasa Indonesia.


Setelah melakukan perbincangan dengan masyarakat setempat, kami harus mengikuti jalan lurus sampai 300 meter ke depan sampai menemukan  jalan belok kiri, setelah itu tinggal lurus sampai ujung. Ketika kami menanyakan seberapa jauh menuju Tanjung Ringgit jawabanya adalah “Pokoknya side (Anda dalam Bahasa Sasak) lolos (terus/ lanjut dalam Bahasa Sasak) aja sampai side sampai menemukan tebing paling ujung, jauh dah pokoknya!”. Kami pun jadi penasaran sebenarnya berapa lama lagi  kami akan tiba di Tanjung Ringgit, padahal perjalanan yang kami tempuh sampai di Desa Pemongkong ini saja sudah membuat buttock (maaf) saya terasa panas.  Kami pun langsung bergegas melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi kami melewati sepanjang jalan yang ‘aduhai’ membuat badan bergoyang. Demi menjaga keselamatan pembonceng (saya pribadi), teman yang saya bonceng, dan sepeda motor yang kami kendarai, saya pun mengurangi kecepatan dan berbelak-belok lincah mencari jalan yang layak untuk dilewati.


Di awal perjalanan (setelah melewati jalan belok kiri) kami masih menemui beberapa rumah penduduk disertai sawah, ladang dan pepohonan tetapi lama kelamaan sepanjang perjalanan kami tidak menemukan pemukiman sama sekali. Di sebelah kanan kiri jalan hanya terdapat ladang dan pepohonan yang lebat, kami merasa benar-benar berada di dalam hutan, sempat ada kekhawatiran bagaimana jika ban motor saya tiba-tiba bocor, kami pasti akan terjebak di hutan. Sesekali kami berpapasan dengan bapak-bapak yang mengendarai motor dengan membawa peralatan memancing atau pengembala yang sedang menggiring  segerombolan kerbau menuju tempat kubangan.


Perjalanan menuju Tanjung Ringgit memang benar-benar jauh, tetapi kami tetap menikmati perjalanan ini karena sepanjang jalan ditemani kicauan burung yang hinggap di pepohonan. Di beberapa titik kami juga menemui hewan-hewan liar seperti monyet, burung elang, jalak serta bunga dengan kombinasi warna merah dan kuning pada mahkota,tak tau namanya apa yang jelas saya menyebutnya bunga api karena benar-benar tampak seperti  api yang menyala. Entah sudah berapa kilometer perjalanan yang kami tempuh tetap saja belum menemukan tebing paling ujung yang dimaksud (Tanjung Ringgit), kami pun memutuskan untuk istirahat sejenak sambil berfoto-foto di hutan. Disini kami juga menemukan papan hijau besar berbentuk saung (rumah adat orang sasak) dan terdapat tulisan berjudulul ‘KEGIATAN REBOISASI KERJASAMA INDONESIA-JEPANG’  dengan bagian paling bawah terdapat gambar logo JIFPRO, Departemen Kehutanan RI, dan Dinas Kehutanan  membuktikan bahwa kami benar-benar berada di dalam hutan lindung.


Dengan keyakinan kuat dan harapan yang besar kami melanjutkan perjalanan, masih dengan melewati kawasan hutan yang rindang tetapi sekarang dengan medan jalan yang berbeda, perpaduan jalanan naik turun dengan struktur aspal kasar dan tanah basah. Setelah beberapa menit berlalu kami mulai mendengar samar-samar deburan ombak dan tampak mercusuar yang menjulang, ini menandakan Tanjung ringgit semakin dekat. Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam perjalanan terhitung dari jalan belok kiri arahan masyarakat Desa Pemongkong, kami pun tiba di Tanjung Ringgit.


Saya pun speechless, hanya bisa tersenyum lega-bahagia karena perjalanan panjang kami terbayarkan sesuai impian. Saat itu saya sedang  berdiri dimana di depan saya terhampar lautan biru yang luas nan luar biasa indahnya disertai tebing kapur yang megah. Saya pun tidak percaya kalau di depan saya adalah Samudera Indonesia, SubhanAllah. Kami pun sempat berlarian dan berteriak senang sebagai tanda puas atas suatu pencapaian, tanpa banyak membuang waktu kami mencoba melihat Samudera Indonesia lebih dekat, kami pun berhati-hati saat berjalan karena medannya bukit yang miring dan menurun. Terik matahari saat itu begitu menyengat, tapi hal tersebut tidak memudarkan kegembiraan kami. Keindahan alam Pulau Lombok yang satu ini memang sungguh luar biasa. Dari kejauhan air laut yang dekat dengan dasar tebing terlihat cantik sekali dengan degradasi warna dari putih-biru muda-biru laut. Pastinya kami tidak lupa mengabadikan keindahan Tanjung Ringgit dari berbagai sudut. Sejauh mata memandang hanya kami berdua saja yang saat itu berada di Tanjung Ringgit semakin memberikan kebebasan pada kami berpose narsis ria dengan kamera.


Tak jauh dari tempat saya berfoto, teman saya melihat sebuah lorong dimana apabila kami melewatinya kami bisa menuju dekat bibir lautan. Dengan berhati-hati kami menelusurinya sampai-sampai kami merayap karena medannya berbentuk tebing yang cukup curam dan menurun, serta tebing tersebut mengandung kapur  tampak dari warnanya hitam bercampur putih kadang kekuningan. Sesampai di bibir lautan terik matahari terasa lebih menyengat, kami hanya sebentar saja disana untuk menikmati hembusan angin dan ombak Samudera Indonesia dari dekat, setelah itu kami memutuskan untuk kembali. Letih, haus, dan badan pegal terasa setelah kami kembali dari bibir lautan karena secara otomatis kami melakukan mini-climbing untuk melewati tebing tersebut. Tetapi hal itu tak menjadikan saya jera untuk datang lagi ke Tanjung Ringgit di lain kesempatan. Pada saat itu dalam hati saya hanya terucap syukur pada Sang Pencipta,’Terima kasih Ya ALLAH atas nikmat kesehatan dan waktu luang yang KAU berikan, terima kasih juga atas kesempatan untuk menikmati indah alam-MU ini.
Lombok I love you!  I Love mbolang forever.

By the way, bagi kawan-kawan yang ingin meluangkan waktu untuk melakukan perbolangan dan melihat kemegahan alam Tanjung Ringgit, Lombok Timur yang super-fantastic secara live saya memberikan beberapa saran setelah melakukan evaluasi perbolangan kami :

1.       Awali perbolangan dengan doa, niat, tekad yang kuat, dan informasi  yang jelas mengenai rute perjalanan. Jangan lupa stretching untuk meregangkan otot-otot, badan fit diperlukan dalam perbolangan.

2.       Pastikan kendaraan yang kita pakai dalam kondisi baik karena perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu yang lama disertai  dengan medan yang ‘aduhai’. Lebih disarankan memakai  mobil atau menyewa mobil plus sopirnya, karena dalam perjalanan yang panjang bisa kita manfaatkan untuk istirahat (tidur). Bangun-bangun sudah sampai di Tanjung Ringgit, kita tinggal foto-foto dan mini-trekking.

3.       Lebih baik dilakukan secara rombongan karena lebih seru dan rame, bisa juga dikonsep seperti piknik tentunya dilengkapi dengan membawa keranjang bekal berisi banyak makanan-minuman  dan alas (tikar).

4.       Memanfaatkan gadget yang teman- teman punya seperti GPS  atau Handphone dengan aplikasi GPS untuk memperkecil kemungkinan tersesat. Selain itu karena Tanjung Ringgit juga bagus untuk dijadikan wisata fotografi, jadi tidak ada salahnya membawa kamera digital/DSLR untuk mengabadikan keindahan alamnya dengan hasil yang memuaskan.

5.       Jangan lupa membawa kacamata (sun-glasses) dan sunblock/ sunscreen gel dengan SPF yang cukup karena terik matahari cukup panas.

That’s all. Selamat mencoba perbolangan ke Tanjung Ringgit, Lombok Timur.  Sayangi alam sebagaimana ia memberikan manfaat yang besar bagi kita,kawan! Jaya terus pariwisata Indonesia!