Rabu, 10 Oktober 2012


“Surga!”. Setiap mendengar kata tersebut pasti kita akan terbayang dengan tempat  yang menawan, istimewa, tenang, nyaman, dan damai. Setiap orang pasti mendambakan ingin masuk surga saat berada di alam baka kelak. Tapi bagaimana jika manusia mempresentasikan definisi sebuah ‘surga’ di dunia ini?, tentunya banyak versi pendapat yang bisa dipaparkan oleh masing-masing individu. Kira-kira apa yang ada dalam pikiran kita jika ‘surga’ dipresentasikan dalam sebuah keindahan alam dan dijadikan nama sebuah pantai. Wow! pasti sungguh luar biasa indahnya. Air pantai yang biru dan jernih, pasir putih yang lembut, barisan pohon kelapa dengan hijau daun yang melambai secara otomatis akan terekam dalam otak kita. Atau mungkin ada yang memiliki imajinasi lain dengan suasana alam Pantai Surga?. Tanpa  banyak membuang waktu untuk membayangkan penampilan Pantai Surga itu seperti apa. Yuk! saya ajak kawan-kawan untuk menelusuri keberadaan Pantai Surga.


Pantai Surga terletak di kawasan Jerowaru-Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari Kota Mataram sekitar 3,5 jam. Saat berada di kawasan jerowaru, langsung saja perjalanan kita lanjutkan menuju Desa Pemongkong. Ketika menemui persimpangan di dekat pasar tradisional yang penuh sesak oleh keramaian masyarakat, kita ambil jalan belok kanan. Dari lokasi ini kita mulai melintasi jalanan dengan struktur yang belum bagus. Penanda selanjutnya yang harus kita cari adalah plang penunjuk arah berwarna hijau yang terdapat tulisan bersusun ‘PANTAI CEMARA, KALIANTAN, TJ. RINGGIT, EKAS, PANTAI SURGA’.  Setelah menemukan plang tersebut kita ambil jalan belok kanan sesuai arah tanda panah pada tulisan ‘PANTAI SURGA’.


Ketika mengikuti arah belok kanan setelah menemui plang penunjuk jalan, tantangan pun dimulai. Kita akan melalui medan jalan yang belum bagus. Jalan aspal yang berlubang disertai dengan struktur yang belum halus. Sepanjang jalan kita melewati perkampungan masyarakat. Sisi kanan-kiri jalan masih ditemui tumbuhan hijau dan barisan pepohonan yang rindang. Tak lama kemudian, lagi-lagi kita menemui kondisi jalan aspal yang memprihatinkan. Pada bagian tengah jalan tampak terbelah dan membentuk gelombang membujur. Pada bagian sebelah kiri kondisi jalan aspal terlihat retak, sedangkan sisi yang lain membentuk lubang dan banyak terdapat batu-batu kecil pecahan dari aspal yang rusak. Selanjutnya selama perjalanan kita masih melintasi jalan aspal yang belum halus.




Beberapa menit kemudian setelah melewati jalan aspal, kita akan menghadapi medan jalan yang perawan. Ya, perawan! saking perawannya jalanan ini belum tersentuh sama sekali oleh panasnya aspal yang hitam, hanya berasal dari tanah alami. Bisa dibayangkan bagaimana rupa kondisi jalan setelah diguyur oleh hujan. Becek dan licin pastinya. Saat kondisi jalan seperti itulah pengalaman pertama saya menyusuri Pantai Surga. Mau tidak mau saya dan teman saya harus bergantian menuntun sepeda motor menjelajah medan jalan yang luar biasa menantang. Sesekali saya menaiki motor sendiri jika masih menemui jalanan tanah yang mulai mengering atau memadat. Tentunya teman saya berjalan duluan hingga beberapa meter di depan saya, menunggu . Setelah saya menghampiri nya, giliran teman saya yang mengendarai motor dan saya berjalan kaki. Begitu sampai seterusnya kita lakukan saat menemui medan tanah becek.


Medan tanah yang berlumpur sudah kita lewati. Sedikit bisa bernafas lega, karena medan selanjutnya kita masih melintasi jalan tanah alami. Tetapi kondisinya sudah mengering dan padat. Di depan, sepanjang mata memandang kita mulai menemukan perkampungan penduduk lagi. Karena saat melewati jalan sebelumnya, selama perjalanan hanya ditemui tumbuhan hijau dan pepohonan yang menghijaukan pinggiran jalan. Sekali, dua kali kita menemui beberapa penduduk yang berjalan kaki menuju ladang. Jalan menuju arah perkampungan penduduk walaupun tanahnya kering tetapi medannya naik turun. Dibutuhkan kejelian ekstra untuk melewati jalanan tersebut. Karena mulai ditemui kombinasi bebatuan pada jalan. Setelah melalui jalan menurun, pada kanan jalan di antara rumah penduduk, kita bisa menemui akses menuju Pantai Surga di Atas Planet. Sebenarnya ingin sekali melihat pantai tersebut. Tapi sayang saat medekati pintu gerbang masuk, kami dilarang oleh penjaga. Karena kawasan tersebut khusus untuk para tamu yang bermalam di cottage yang berada di kawasan tersebut. Sayang sungguh sayang! kami pun hanya bisa berfoto di depan gerbang yang disebelahnya terdapat batu ukir bertuliskan ‘HEAVEN ON THE PLANET’.

Penelusuran menuju Pantai Surga masih berlanjut. Dengan bertanya pada penduduk sekitar, kita meminta informasi yang jelas mengenai rute jalan yang harus ditempuh. Senang rasanya bisa melewati sepanjang jalan tanah yang kering dan padat. Selain itu selama perjalanan kita bisa menikmati hijaunya tumbuhan yang tersebar di ladang penduduk. Di beberapa ladang juga bisa ditemui rumah bambu yang mencolok dengan warna coklatnya. Bukit-bukit hijau juga mulai menampakkan kegagahannya.Tapi kesenangan itu tak bertahan lama. Beberapa meter di depan kami, jalan becek dan licin mulai menyambut kedatangan kami. Lagi dan lagi. Sepanjang jalan tersebut juga hanya terdapat semak belukar dan pepohonan hijau yang liar. Rumah penduduk pun mulai tidak nampak, rasanya seperti di hutan saja. Tekad kami pun mulai goyah, saat meghadapi kenyataan bahwa jalan semakin becek. Langit pun berganti menjadi abu-abu. Tik,tik,tik! Tetesan air dari langit mulai berjatuhan. Untungnya gerimis tak berlangsung lama, tak lebih dari satu menit. Tapi langit masih belum berubah warna menjadi biru terang, hanya berawan.
Semakin lama perjalanan yang kami tempuh, rasa-rasanya kami seperti pembajak sawah saja. Bagaimana tidak, motor yang kita pergunakan tidak bisa melewati medan seperti ini. Kami bergantian menuntun sepeda motor sampai menemukan jalan yang benar-benar layak untuk mengendarai motor. Menit demi menit terlewat, akhirnya kita tiba juga di Pantai Surga. Tampak di depan  terdapat pintu gerbang besi dan ukiran batu bertuliskan ‘OCEAN HEAVEN’. Modelnya pun mirip seperti saat kami menemui gerbang pintu masuk Pantai Surga di Atas Planet. Kami pun langsung masuk. Tengok kanan-kiri tidak ada penjaga yang berada di sekitar. Aman!. Saat memasuki kawasan tersebut kami menemui beberapa pekerja bangunan yang sibuk membangun cottage. Menurut informasi yang kami dapat, kawasan ini sudah menjadi hak kelola oleh seorang ekspatriat. Saya lupa kebangsaan negaranya, antara Australia atau New Zealand. Dan proyek ini pun akan selesai 2 bulan lagi. Dan setelah itu keindahan pantai ini hanya bisa dinikmati khusus oleh para tamu, penginap cottage. Oh ya, perjalanan ini kami lakukan pada bulan Maret 2011 silam.


Setelah melewati pekerja bangunan dan barang-barang bangunan yang menumpuk, kami pun langsung menuju pantai yang terletak begitu dekat. Hanya beberapa langkah saja. Pasir putih yang lembut seperti merica mulai menyambut setiap tapak kaki yang kita buat. Saya pun melepas alas kaki. Rasa pasir begitu lembut, menggelitik tiap millimeter kulit telapak kaki. Kalau dilihat hamparan pasir nan bersih ini dikelilingi dan diapit oleh tebing-tebing batuan cadas. Sehingga jika dilihat area pasir pantai ini membentuk cekungan setengah lingkaran. Saat berada disini kami tidak menemukan wisatawan lain. Hanya ada tukang bangunan dan kami. Pantai Surga benar-benar menjadi pantai pribadi kami saat itu. Desiran ombak terdengar nyaring disertai angin pantai yang memberikan sensasi segar pada kulit yang mengeluarkan butiran air keringat. Air pantainya pun jernih dan berwarna biru.Sungguh indah sekali, SubhanALLAH!.


Di sebelah kiri kita bisa menikmati 2 tebing batuan cadas yang bentuknya unik sekali. Bentuknya mirip seperti bentuk nasi yang tersedia di rumah makan ayam goreng cepat saji. Pada bagian atas tebing cadas ditumbuhi oleh rerumputan yang lebat dan tumbuhan hijau yang merambat. Semakin ke bawah, semakin jarang rerumputan dan tumbuhan hijau yang tumbuh. Pada bagian bawah tebing lebih menampakkan warna cadas, kuning kecoklatan. Warna kuning kecoklatan semakin terlihat kontras dari kejauhan. Selain mendapat pantulan cahaya matahari, dibawah tebing cadas juga dikelilingi oleh air pantai yang biru. Karena 2 tebing cadas ini letaknya berdampingan dan tebing terjauh letaknya lebih menjorok keluar. Mata kita pun seperti melihat kura-kura raksasa. Tebing paling dekat menggambarkan sebagai tempurung kura-kura sedangkan tebing cadas paling jauh berperan sebagai kepala kura-kura. Lucu sekali!

Ketika mata kita masih setia menyusuri pemandangan dua tebing tersebut ke belakang, maka kita akan melihat satu tebing cadas lagi. Kali ini bentuknya seperti batok kelapa yang dibelah kemudian diterungkapkan. Tebing cadas ini tidak bersinggungan langsung dengan air pantai, menancap kokoh pada halaman pasir pantai yang lembut. Di dekat dasar tebing cadas ditemui barisan pohon kelapa yang berdiri tegap. Dahan kelapa tampak bergoyang saat angin dihempaskan dari arah pantai menuju daratan. Daun-daun kelapa pun menari dengan gemulai, menyambut belaian angin pantai yang semilir. Selanjutnya kita menikmati pemandangan hijau rerumputan dan tumbuhan hijau liar yang merambat di sekitar area pasir pantai.

Pada bagian sebelah kanan, kita bisa menikmati  tebing cadas yang bentuknya tak beraturan dan memanjang. Tampak dari kejauhan seperti  bentuk komet yang dibelah horizontal dan posisinya tengkurap. Pada bagian atas bukit cadas ditumbuhi rerumputan dan tumbuhan hijau liar yang merambat. Saat mendekati dasar tebing cadas kita bisa menemui batu karang besar yang berhamburan di pinggir pantai. Beberapa batu karang dipenuhi dengan ribuan cangkang kerang yang menempel. Saat berada di balik bukit yang bersinggungan dengan air pantai, kita disuguhkan dengan pemandangan bongkahan bukit cadas yang kokoh.Sungguh luar biasa menawan! Tebing cadas tampak berbentuk persegi dan membentang sepanjang pantai. Bagus sekali digunakan sebagai pemandangan latar belakang saat mengambil gambar.  Disini kita juga bisa melihat ikan-ikan kecil yang menyelinap di balik batu karang. Tampaknya ikan-ikan tersebut terbawa oleh ombak pantai yang menuju daratan. Kemudian terperangkap dalam cekungan batu karang yang dangkal sehingga tidak bisa kembali ke pantai.

Semakin lama berada di sekitar Pantai Surga, semakin panas pula sinar matahari yang menyengat kulit. Pasir pantai yang awalnya lembut menggelitik kaki yang asik melangkah, sekarang terasa memanas. Untuk menyegarkan diri, kita bisa sekedar bermain-main air di pinggir pantai atau berenang. Air pantai memberi rasa dingin pada kulit yang terus mengeluarkan air keringat. Jika kita tidak mau berbasah ria, kita masih bisa berjalan kaki di sekitar area pantai untuk menikmati keindahan pemandangan sekitar. Menikmati luasnya pantai yang biru. Tampak dari kejauhan bukit-bukit berjajar rapi seperti anak rantai yang tak terputus. Langit yang biru tampak malu-malu menampakkan diri, karena saat itu langit diselimuti awan putih yang bergelung. Bermain pasir pantai juga bisa menjadi pilihan saat berada disini. Kalau beruntung kita bisa menemui kepiting yang berukuran cukup besar berlarian di sekitar pesisisr pantai.




Sungguh damai dan tenang memang berada di sekitar Pantai Surga. Walaupun sebelumnya kita harus melewati serangkaian medan jalan yang menantang. Apa mungkin nama Pantai Surga ini sengaja diambil karena kita harus melintasi jalur jalan ‘neraka’ tersebut?  atau karena sensasi ‘surga’ yang kita rasakan di sekitar pantai yaitu suasana sepi, tenang, dan kita dibuat nyaman oleh biru pantai, bukit cadas yang eksotis, dan pasir putihnya yang lembut?.Entahlah! yang terpenting saya sudah merasakan sensasinya secara langsung. Keindahan alam Indonesia itu memang menawan dan eksotis kawan! Jadi jangan bosan-bosan untuk menelusuri tiap jengkal keelokan alam Indonesia. Siapa tau masih banyak pantai-pantai ‘surga’ yang berada di sepanjang kepulauan wilayah Negara Indonesia.

Saya Cinta Alam Indonesia!
Bravo Pariwisata Indonesia!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar