“Surga!”. Setiap mendengar kata tersebut pasti kita akan
terbayang dengan tempat yang menawan,
istimewa, tenang, nyaman, dan damai. Setiap orang pasti mendambakan ingin masuk
surga saat berada di alam baka kelak. Tapi bagaimana jika manusia
mempresentasikan definisi sebuah ‘surga’ di dunia ini?, tentunya banyak versi
pendapat yang bisa dipaparkan oleh masing-masing individu. Kira-kira apa yang
ada dalam pikiran kita jika ‘surga’ dipresentasikan dalam sebuah keindahan alam
dan dijadikan nama sebuah pantai. Wow! pasti sungguh luar biasa indahnya. Air
pantai yang biru dan jernih, pasir putih yang lembut, barisan pohon kelapa
dengan hijau daun yang melambai secara otomatis akan terekam dalam otak kita.
Atau mungkin ada yang memiliki imajinasi lain dengan suasana alam Pantai
Surga?. Tanpa banyak membuang waktu untuk
membayangkan penampilan Pantai Surga itu seperti apa. Yuk! saya ajak
kawan-kawan untuk menelusuri keberadaan Pantai Surga.
Pantai Surga terletak di kawasan Jerowaru-Kabupaten Lombok
Timur, Nusa Tenggara Barat. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari Kota Mataram
sekitar 3,5 jam. Saat berada di kawasan jerowaru, langsung saja perjalanan kita
lanjutkan menuju Desa Pemongkong. Ketika menemui persimpangan di dekat pasar
tradisional yang penuh sesak oleh keramaian masyarakat, kita ambil jalan belok
kanan. Dari lokasi ini kita mulai melintasi jalanan dengan struktur yang belum
bagus. Penanda selanjutnya yang harus kita cari adalah plang penunjuk arah
berwarna hijau yang terdapat tulisan bersusun ‘PANTAI CEMARA, KALIANTAN, TJ.
RINGGIT, EKAS, PANTAI SURGA’. Setelah
menemukan plang tersebut kita ambil jalan belok kanan sesuai arah tanda panah
pada tulisan ‘PANTAI SURGA’.
Ketika mengikuti arah belok kanan setelah menemui plang
penunjuk jalan, tantangan pun dimulai. Kita akan melalui medan jalan yang belum
bagus. Jalan aspal yang berlubang disertai dengan struktur yang belum halus.
Sepanjang jalan kita melewati perkampungan masyarakat. Sisi kanan-kiri jalan
masih ditemui tumbuhan hijau dan barisan pepohonan yang rindang. Tak lama
kemudian, lagi-lagi kita menemui kondisi jalan aspal yang memprihatinkan. Pada
bagian tengah jalan tampak terbelah dan membentuk gelombang membujur. Pada
bagian sebelah kiri kondisi jalan aspal terlihat retak, sedangkan sisi yang
lain membentuk lubang dan banyak terdapat batu-batu kecil pecahan dari aspal
yang rusak. Selanjutnya selama perjalanan kita masih melintasi jalan aspal yang
belum halus.
Beberapa menit kemudian setelah melewati jalan aspal, kita
akan menghadapi medan jalan yang perawan. Ya, perawan! saking perawannya
jalanan ini belum tersentuh sama sekali oleh panasnya aspal yang hitam, hanya
berasal dari tanah alami. Bisa dibayangkan bagaimana rupa kondisi jalan setelah
diguyur oleh hujan. Becek dan licin pastinya. Saat kondisi jalan seperti itulah
pengalaman pertama saya menyusuri Pantai Surga. Mau tidak mau saya dan teman
saya harus bergantian menuntun sepeda motor menjelajah medan jalan yang luar
biasa menantang. Sesekali saya menaiki motor sendiri jika masih menemui jalanan
tanah yang mulai mengering atau memadat. Tentunya teman saya berjalan duluan
hingga beberapa meter di depan saya, menunggu . Setelah saya menghampiri nya,
giliran teman saya yang mengendarai motor dan saya berjalan kaki. Begitu sampai
seterusnya kita lakukan saat menemui medan tanah becek.
Medan tanah yang berlumpur sudah kita lewati. Sedikit bisa
bernafas lega, karena medan selanjutnya kita masih melintasi jalan tanah alami.
Tetapi kondisinya sudah mengering dan padat. Di depan, sepanjang mata memandang
kita mulai menemukan perkampungan penduduk lagi. Karena saat melewati jalan sebelumnya,
selama perjalanan hanya ditemui tumbuhan hijau dan pepohonan yang menghijaukan
pinggiran jalan. Sekali, dua kali kita menemui beberapa penduduk yang berjalan
kaki menuju ladang. Jalan menuju arah perkampungan penduduk walaupun tanahnya
kering tetapi medannya naik turun. Dibutuhkan kejelian ekstra untuk melewati
jalanan tersebut. Karena mulai ditemui kombinasi bebatuan pada jalan. Setelah
melalui jalan menurun, pada kanan jalan di antara rumah penduduk, kita bisa
menemui akses menuju Pantai Surga di Atas Planet. Sebenarnya ingin sekali
melihat pantai tersebut. Tapi sayang saat medekati pintu gerbang masuk, kami
dilarang oleh penjaga. Karena kawasan tersebut khusus untuk para tamu yang
bermalam di cottage yang berada di kawasan tersebut. Sayang sungguh sayang!
kami pun hanya bisa berfoto di depan gerbang yang disebelahnya terdapat batu
ukir bertuliskan ‘HEAVEN ON THE PLANET’.
Penelusuran menuju Pantai Surga masih berlanjut. Dengan
bertanya pada penduduk sekitar, kita meminta informasi yang jelas mengenai rute
jalan yang harus ditempuh. Senang rasanya bisa melewati sepanjang jalan tanah
yang kering dan padat. Selain itu selama perjalanan kita bisa menikmati
hijaunya tumbuhan yang tersebar di ladang penduduk. Di beberapa ladang juga
bisa ditemui rumah bambu yang mencolok dengan warna coklatnya. Bukit-bukit
hijau juga mulai menampakkan kegagahannya.Tapi kesenangan itu tak bertahan
lama. Beberapa meter di depan kami, jalan becek dan licin mulai menyambut
kedatangan kami. Lagi dan lagi. Sepanjang jalan tersebut juga hanya terdapat
semak belukar dan pepohonan hijau yang liar. Rumah penduduk pun mulai tidak
nampak, rasanya seperti di hutan saja. Tekad kami pun mulai goyah, saat meghadapi
kenyataan bahwa jalan semakin becek. Langit pun berganti menjadi abu-abu.
Tik,tik,tik! Tetesan air dari langit mulai berjatuhan. Untungnya gerimis tak
berlangsung lama, tak lebih dari satu menit. Tapi langit masih belum berubah
warna menjadi biru terang, hanya berawan.
Semakin lama perjalanan yang kami tempuh, rasa-rasanya kami
seperti pembajak sawah saja. Bagaimana tidak, motor yang kita pergunakan tidak
bisa melewati medan seperti ini. Kami bergantian menuntun sepeda motor sampai
menemukan jalan yang benar-benar layak untuk mengendarai motor. Menit demi
menit terlewat, akhirnya kita tiba juga di Pantai Surga. Tampak di depan terdapat pintu gerbang besi dan ukiran batu
bertuliskan ‘OCEAN HEAVEN’. Modelnya pun mirip seperti saat kami menemui
gerbang pintu masuk Pantai Surga di Atas Planet. Kami pun langsung masuk.
Tengok kanan-kiri tidak ada penjaga yang berada di sekitar. Aman!. Saat
memasuki kawasan tersebut kami menemui beberapa pekerja bangunan yang sibuk
membangun cottage. Menurut informasi yang kami dapat, kawasan ini sudah menjadi
hak kelola oleh seorang ekspatriat. Saya lupa kebangsaan negaranya, antara
Australia atau New Zealand. Dan proyek ini pun akan selesai 2 bulan lagi. Dan
setelah itu keindahan pantai ini hanya bisa dinikmati khusus oleh para tamu,
penginap cottage. Oh ya, perjalanan ini kami lakukan pada bulan Maret 2011
silam.
Setelah melewati pekerja bangunan dan barang-barang bangunan
yang menumpuk, kami pun langsung menuju pantai yang terletak begitu dekat.
Hanya beberapa langkah saja. Pasir putih yang lembut seperti merica mulai
menyambut setiap tapak kaki yang kita buat. Saya pun melepas alas kaki. Rasa
pasir begitu lembut, menggelitik tiap millimeter kulit telapak kaki. Kalau
dilihat hamparan pasir nan bersih ini dikelilingi dan diapit oleh tebing-tebing
batuan cadas. Sehingga jika dilihat area pasir pantai ini membentuk cekungan
setengah lingkaran. Saat berada disini kami tidak menemukan wisatawan lain.
Hanya ada tukang bangunan dan kami. Pantai Surga benar-benar menjadi pantai pribadi
kami saat itu. Desiran ombak terdengar nyaring disertai angin pantai yang
memberikan sensasi segar pada kulit yang mengeluarkan butiran air keringat. Air
pantainya pun jernih dan berwarna biru.Sungguh indah sekali, SubhanALLAH!.
Di sebelah kiri kita bisa menikmati 2 tebing batuan cadas
yang bentuknya unik sekali. Bentuknya mirip seperti bentuk nasi yang tersedia
di rumah makan ayam goreng cepat saji. Pada bagian atas tebing cadas ditumbuhi
oleh rerumputan yang lebat dan tumbuhan hijau yang merambat. Semakin ke bawah,
semakin jarang rerumputan dan tumbuhan hijau yang tumbuh. Pada bagian bawah
tebing lebih menampakkan warna cadas, kuning kecoklatan. Warna kuning
kecoklatan semakin terlihat kontras dari kejauhan. Selain mendapat pantulan
cahaya matahari, dibawah tebing cadas juga dikelilingi oleh air pantai yang
biru. Karena 2 tebing cadas ini letaknya berdampingan dan tebing terjauh
letaknya lebih menjorok keluar. Mata kita pun seperti melihat kura-kura
raksasa. Tebing paling dekat menggambarkan sebagai tempurung kura-kura
sedangkan tebing cadas paling jauh berperan sebagai kepala kura-kura. Lucu
sekali!
Ketika mata kita masih setia menyusuri pemandangan dua
tebing tersebut ke belakang, maka kita akan melihat satu tebing cadas lagi.
Kali ini bentuknya seperti batok kelapa yang dibelah kemudian diterungkapkan.
Tebing cadas ini tidak bersinggungan langsung dengan air pantai, menancap kokoh
pada halaman pasir pantai yang lembut. Di dekat dasar tebing cadas ditemui
barisan pohon kelapa yang berdiri tegap. Dahan kelapa tampak bergoyang saat
angin dihempaskan dari arah pantai menuju daratan. Daun-daun kelapa pun menari
dengan gemulai, menyambut belaian angin pantai yang semilir. Selanjutnya kita
menikmati pemandangan hijau rerumputan dan tumbuhan hijau liar yang merambat di
sekitar area pasir pantai.
Pada bagian sebelah kanan, kita bisa menikmati tebing cadas yang bentuknya tak beraturan dan
memanjang. Tampak dari kejauhan seperti
bentuk komet yang dibelah horizontal dan posisinya tengkurap. Pada
bagian atas bukit cadas ditumbuhi rerumputan dan tumbuhan hijau liar yang
merambat. Saat mendekati dasar tebing cadas kita bisa menemui batu karang besar
yang berhamburan di pinggir pantai. Beberapa batu karang dipenuhi dengan ribuan
cangkang kerang yang menempel. Saat berada di balik bukit yang bersinggungan
dengan air pantai, kita disuguhkan dengan pemandangan bongkahan bukit cadas
yang kokoh.Sungguh luar biasa menawan! Tebing cadas tampak berbentuk persegi
dan membentang sepanjang pantai. Bagus sekali digunakan sebagai pemandangan
latar belakang saat mengambil gambar.
Disini kita juga bisa melihat ikan-ikan kecil yang menyelinap di balik
batu karang. Tampaknya ikan-ikan tersebut terbawa oleh ombak pantai yang menuju
daratan. Kemudian terperangkap dalam cekungan batu karang yang dangkal sehingga
tidak bisa kembali ke pantai.
Semakin lama berada di sekitar Pantai Surga, semakin panas
pula sinar matahari yang menyengat kulit. Pasir pantai yang awalnya lembut
menggelitik kaki yang asik melangkah, sekarang terasa memanas. Untuk
menyegarkan diri, kita bisa sekedar bermain-main air di pinggir pantai atau
berenang. Air pantai memberi rasa dingin pada kulit yang terus mengeluarkan air
keringat. Jika kita tidak mau berbasah ria, kita masih bisa berjalan kaki di
sekitar area pantai untuk menikmati keindahan pemandangan sekitar. Menikmati
luasnya pantai yang biru. Tampak dari kejauhan bukit-bukit berjajar rapi
seperti anak rantai yang tak terputus. Langit yang biru tampak malu-malu
menampakkan diri, karena saat itu langit diselimuti awan putih yang bergelung. Bermain
pasir pantai juga bisa menjadi pilihan saat berada disini. Kalau beruntung kita
bisa menemui kepiting yang berukuran cukup besar berlarian di sekitar pesisisr
pantai.
Sungguh damai dan tenang memang berada di sekitar Pantai
Surga. Walaupun sebelumnya kita harus melewati serangkaian medan jalan yang
menantang. Apa mungkin nama Pantai Surga ini sengaja diambil karena kita harus
melintasi jalur jalan ‘neraka’ tersebut?
atau karena sensasi ‘surga’ yang kita rasakan di sekitar pantai yaitu
suasana sepi, tenang, dan kita dibuat nyaman oleh biru pantai, bukit cadas yang
eksotis, dan pasir putihnya yang lembut?.Entahlah! yang terpenting saya sudah
merasakan sensasinya secara langsung. Keindahan alam Indonesia itu memang menawan
dan eksotis kawan! Jadi jangan bosan-bosan untuk menelusuri tiap jengkal
keelokan alam Indonesia. Siapa tau masih banyak pantai-pantai ‘surga’ yang
berada di sepanjang kepulauan wilayah Negara Indonesia.
Saya Cinta Alam Indonesia!
Bravo Pariwisata Indonesia!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar